Tuesday, June 16, 2015

TEGE KATUK, ITU SAJA

Sejak tiga tahun di Taiwan, saya tidak pernah makan daun katuk. Bukan tak ada, melainkan karena saya tidak menemukannya. Pasti ada. Pasti. Di suatu tempat pasti ada.

Sayuran yang lain, yang belum pernah saya makan selama di Indonesia, mellimpah ruah. Ada yang saya suka sekali, macam Kailan Cai, ada pula yang saya tidak doyan, macam ... eee ... Apa itu namanya, lupa. Ah, pokoknya tidak doyan.

Mendekati saat-saat pulang, saya yang tidak begitu suka exploring makanan, jadi merindukan daun katuk. Saya ingin mencium langu manisnya, mencecap getir segarnya. Daun katuk bukan makanan istimewa, namun saya, dengan sentimentilnya, jatuh rindu sejadi-jadinya.

Memasak daun katuk juga tidak bisa berupa-rupa. Yang saya kenal selama ini adalah hanya dengan di-”tege” saja. Sayur bening bumbu kencur dan bawang. Pada kakak yang di rumahnya saya akan pertama singgah, saya sudah memesan untuk berbuka puasa dengan tege katuk.

Rindu itu memang tidak macam-macam. Cukup tege katuk. Itu saja.

#NulisRandon2015
#day16

Image: Google search.